Desa Torosiaje
Destinasi Wisata, Pohuwato

Torosiaje, Wisata Kampung ‘Terapung’ Di Laut Selatan Gorontalo

Kamu penyuka wisata bahari? suka main ke laut, pantai, atau nyebrang ke pulau untuk refreshing, liburan?

Kalau kamu bosan dengan wisata bahari yang itu-itu aja, kayak main dan berenang di pantai misalnya, kamu perlu main kesini nih.

Torosiaje, sebuah perkampungan yang dibangun di atas laut. Di atas laut? Serius?

Dua rius, hehehe. Serius lah, asli, fakta, nyata. Datanglah ke Gorontalo, disini kamu bisa temukan hal unik yang satu ini.

Desa Torosiaje terletak di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Jaraknya sekitar 239 kilometer dari ibukota provinsi Gorontalo atau 5 sampai 6 jam perjalanan jika berkendara dengan motor atau mobil.

Torosiaje berada di daerah paling barat Gorontalo, tak jauh dari perbatasan Gorontalo – Sulawesi Tengah.

Cukup mudah untuk mencapai kampung ini, yakni dengan menelusuri jalan utama Trans Sulawesi.

Sesampainya di Marisa, ibukota kabupaten Pohuwato, kamu hanya butuh waktu 1,5 jam lagi menuju kecamatan Popayato.

Nah, sesampainya di Desa Telaga Biru, pelankan laju kendaraan dan perhatikan di sebelah kiri atau selatan, terlihat gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Desa Wisata Torosiaje”.

Selanjutnya, hanya dalam waktu 7 menit saja atau sekitar 3,3 KM, sampai deh di dermaga penyebrangan.

Para pengunjung hanya dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 3000,- di pos masuk dermaga menuju Torosiaje.

Disini para pengunjung mulai disuguhi pemandangan hutan mangrove yang seakan terbelah oleh jembatan sepanjang 100 meter menuju dermaga.

Perahu milik warga berjejer di dermaga, seakan sudah menunggu dan siap mengantarkan kamu secepatnya untuk berpetualang di Torosiaje.

Hanya dengan membayar sebesar 10 ribu rupiah, kamu akan diantar-jemput oleh perahu yang kamu sewa ini.

Aroma lautan yang khas bercampur semilir angin yang tersaring hutan mangrove mulai terasa akrab selama 15 menit perjalanan di atas perahu, kurang lebih 600 meter jarak tempuh.

Ketika perahu mulai ‘lepas’ dari kepungan hutan mangrove, rumah-rumah masyarakat Torosiaje mulai tertangkap pandangan, berdiri kokoh di atas lautan.

‘Mengambang’ di Teluk Tomini Sejak Awal Abad 19

Torosiaje awalnya merupakan kumpulan beberapa rumah pada tahun 1901, yang awalnya dibangun oleh seorang bernama Aji, atau versi lain seorang Haji.

Toro dalam bahasa Bajau artinya tanjung, sedangkan Si Aji berarti Si Aji.

Jadi, Torosiaje maksudnya adalah tanjung milik si Aji, karena dialah yang pertama kali membangun rumah disini untuk persinggahan ketika melaut.

Berlayar diantara koridor | Dok. Eksklusif @yusuf_emy

Kalau kamu punya drone, coba terbangkan. Desa Torosiaje yang ditangkap kamera di langit akan terlihat seperti membentuk huruf U.

Puluhan rumah berbahan dasar kayu mengikuti alur huruf U ini, koridor yang panjangnya mencapai 2,3 kilometer.

Koridor ini baru dibangun pada tahun 2004. Jadi, sebelum itu, untuk terhubung dengan rumah lainnya, warga Torosiaje memakai perahu.

Bukan hanya rumah, di sini juga terdapat masjid, puskesmas, sekolah mulai dari TK hingga SMP, bahkan sebidang tanah yang dijadikan lapangan bulu tangkis.

Pembangunan rumah penduduk atau fasilitas lainnya dibatasi area tertentu saja dengan berbagai alasan, contoh. tidak dekat hutan mangrove untuk menjaga ekosistemnya.

Perairan tenang dan jernih dibawah Torosiaje membuat pengunjung bisa melihat ikan-ikan berenang kesana kemari, bulu babi, atau terkadang bintang laut.

Dulu, sebelum dialiri pasokan listrik 24 jam, masyarakat di sini sangat mengandalkan genset.

Mayoritas penduduk Torosiaje memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, memburu ikan di laut lepas dan melakukan budidaya ikan di keramba.

Masyarakat di sini sangat ramah, kamu bisa menikmati aneka macam masakan laut yang dijajakan oleh mereka dengan harga bervariasi mulai 40 ribu rupiah.

Kebayang kan lezatnya ikan bakar dan kawan-kawan?!

Turis yang berencana menginap bisa memilih diantara beberapa penginapan pemerintah maupun swasta milik masyarakat dengan harga bervariasi mulai dari 150 ribu rupiah permalam.

Kalau penginapan penuh, jangan khawatir, karena masyarakat Torosiaje biasanya menawarkan untuk menginap di rumah pribadi mereka dengan biaya sesuai kesepakatan dengan tuan rumah.

Belum puas berjalan mengitari kampung melalui koridor?

Kamu bisa menikmati perjalanan mengelilingi Torosiaje dari atas perahu hanya dengan membayar 20 ribu rupiah per-orang.

Yang punya budget lebih, bisa juga naik speedboat dengan biaya 350 ribu rupiah maksimal 10 orang, plus menyambangi pulau Basar dan Didikki.

Sengkang, Si Manusia Laut Torosiaje

Konon, pernah hidup seorang penduduk Torosiaje yang seluruh hidupnya dihabiskan di laut.

Sengkang namanya, legenda dan icon Desa Torosiaje.

Sejak lahir, dia suka berenang berlama-lama hingga akhirnya sulit diajak oleh orangtuanya untuk kembali naik ke rumah, terus seperti itu hingga beranjak dewasa.

Oleh sebab itu, dibuatkanlah untuknya susunan kayu untuk tempat beristirahat.

Bisa dikatakan, dia adalah perenang Torosiaje terbaik pada masanya, bahkan mungkin dunia, karena hidupnya dihabiskan di laut.

Karena hidup di air lautan, tubuh Sengkang seperti bersisik atau berlumut, yang ternyata disebabkan reaksi ilmiah dari tubuh juga sengatan larva.

Cerita tentang Sengkang menyebar kemana-mana, hingga menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Torosiaje.

Suku Samma-Bajau, Penjelajah Laut Nusantara

Kampung Torosiaje dihuni oleh berbagai suku seperti Gorontalo, Bugis, Mandar, Buton, Minahasa, Jawa, Madura, dan Bajo sebagai mayoritas.

Suku Bajo atau yang sesuai KBBI adalah Bajau, merupakan pelaut ulung, dimana mereka hidup nomaden atau berpindah-pindah dari satu area laut ke laut lainnya.

Sebenarnya suku yang terkadang disebut juga dengan gipsi laut ini, bernama Samma-Bajau.

Suku Samma-Bajau ini tersebar di beberapa negara Asia Tenggara, mulai dari Malaysia, Indonesia, hingga Filipina.

Walaupun begitu, orang Indonesia kebanyakan lebih atau hanya familiar dengan penyebutan suku Bajo untuk kelompok etnis ini.

Di Indonesia, Samma-Bajau bertebaran di beberapa daerah pesisir Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Jawa Timur, hingga Nusa Tenggara.

Beberapa kampung Bajau yang terkenal diantaranya Pulau Bungin di Sumbawa – Nusa Tenggara Barat, Kampung Mola di Wakatobi – Sulawesi Tenggara, dan Kampung Bajo Laut Lukko Siangpiong  di Konawe Utara – Sulawesi Tenggara.

Banyak versi asal-usul suku ini. Diantara yang paling terkenal adalah bahwa Samma-Bajau berasal dari Johor, Malaysia.

Versi lain yang juga cukup populer yakni yang menyebutkan Muara Sungai Barito, Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan, sebagai asal dari nenek moyang suku ini.

Hipotesa ini diambil karena beberapa kosakata mereka yang mirip bahasa dayak.

Luar biasa menarik ya, Indonesia ini benar-benar menyimpan aneka ragam suku dan budaya yang unik.

Plesiran ke Torosiaje bukan cuma berwisata menikmati keindahan alam ya sob, tapi juga belajar salah satu budaya dan sejarah suku yang ada di Indonesia.

Objek Wisata Terdekat

Pohuwato sebagai wilayah ujung barat Gorontalo menyimpan berbagai destinasi wisata yang potensial lho.

Selain berpetualang di desa yang di tetapkan sebagai wisata bahari sejak tahun 2007 ini, sobat Wigo bisa berkunjung ke Puncak Banggaloalo.

Gimana sob, wisata Gorontalo keren-keren kan?

Tunggu apa lagi, let’s wigo!

2 Replies to Torosiaje, Wisata Kampung ‘Terapung’ Di Laut Selatan Gorontalo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *